Awal Ramadhan 2013 Dan Idul Fitri 2013, MUI Tunggu Pemerintah

Melihat Bulan Dianut Sebagian Besar Ulama Di Dunia

Jakarta (MUIOnline) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) masih menunggu penetapan dari pemerintah tentang awal Ramadhan tahun 2013 ini. Pemerintah merupakan Ulil Amri yang harus kita taati sebagaimana dalam Al-Qur’anul Karim. MUI menunggu ketetapan pemerintah melalui lembaga Itsbatnya. Begitu juga tentang tanggal 1 Syawwal atau Idul Fitri, MUI menunggu ketetapan dari pemerintah melalui Kementerian Agama. Kita harus tunduk pada Ulil Amri. Ketaatan pada Ulil Amri atau pemerintah merupakan perintah Allah SWT, selama pemerintah itu dalam koridor ketundukan kepada Allah dan RasulNya. Demikian dikemukakan Ketua MUI Pusat Prof. Dr. H. Umar Shihab menjawa pertanyaan MUIOnline, di Gedung MUI, Jakarta, Selasa (2/7) pagi tadi.

Namun begitu, MUI tetap menghormati terhadap kelembagaan lain seperti Muhammadiyah yang menentukan sendiri awal Ramadhan dan Idul Fitri. Sebab, hal itu merupakan hal pendapat masing-masing dalam memahami ajaran agama. Selama perbedaan pemahaman agama itu tidak menyangkut persoalan ajaran pokok, maka perbedaan pandangan dan pemahaman terhadap ajaran agama dibolehkan. Perbedaan pandangan yang menyangkut ajaran “furu’iyyah” atau cabang ajaran, tidak ada masalah, karena hal itu berkaitan dengan ijtihad masing-masing. Kata Nabi, kalau ijtihadnya benar, maka mendapat dua pahala, tapi kalau ijtihadnya salah, mendapat satu pahala.

“Perbedaan pandangan dan pemahaman ajaran agama yang dibolehkan itu, ya seperti soal-soal cabang seperti penetapan awal Ramadhan dan Idul Fitri, qunut, hitungan raka’at Sholat Tarawih dan sebagainya yang tidak mengganggu pada pokok aqidah yang baku dan sudah disepakati. Ajaran pokok itu seperti Rasululloh Muhammad merupakan Rasul dan Nabi terakhir, Allah itu Satu, Esa, sholat wajib itu lima kali dalam sehari semalam dan lain-lain. Jadi, kalau ada yang bilang ada nabi lagi setelah Rasulullah Muhammad atau shalat wajib itu hanya tiga kali, maka itu pemahaman yang tidak boleh,” tegas Umar Shihab.

Karena itu, menurut Umar Shihab, MUI menghimbau kepada seluruh umat Islam harus senantiasa bersikap toleran terhadap perbedaan awal Ramadhan dan Idul Fitri. “Tidak perlu saling berantem dan saling membid’ahkan. Apalagi saling mengklaim dirinya paling berhak masuk syurga. Kita harus selalu menjaga kerukunan umat Islam dan jangan mau diadu domba oleh pihak manapun hanya karena perbedaan pemahaman yang dibolehkan,” katanya.

Ditambahkannya, selain MUI mengikuti perntah Al-Qur’an agar mematuhi pemerintah, juga karena penetapan awal Ramadhan dan Idul Fitri melalui rukyah atau melihat bulan merupakan ketentuan yang diikuti dan dilaksanakan oleh sebagian besar para ulama sejak daulu kala. Begitu juga, sebagian besar negara-negara di dunia menetapkan awal Ramdhan dan Idul Fitri melalui rukyah. “Rukyah dalam arti melihat bulan dengan mata telanjang itu sudah diputuskan da;a, Konferensi OKI (Organisasi Islam Dunia). Tapi ada beberapa negara yang tidak mematuhinya seperti Arab Saudi sendiri,” ujar Umar Shihab.

Dikemukakan Umar Shihab, bahwa pertengkaran sesama umat Islam adalah karena dipicu oleh saling serang secara pribadi maupun kelompok yang mengaku paling benar. Atau dipicu oleh pemahaman yang sama sekali tidak sesuai dengan ajaran Islam sehingga dinilai sebagai ajaran sesat yang keluar dari ajaran Islam, tetapi yang bersangkutan tetap mengaku berada dalam bingkai agama Islam. “Jadi dua persoalan itulah yang sering menimbulkan konflik, yakni saling cerca dan mengembangkan ajaran di luar pokok ajaran Islam. Kalau punya ajaran pokok yang sama sekali di luar ajaran Islam, ya silakan saja, tapi jangan mengaku agama Islam. Mereka harus bikin agama lain, ga masalah silakan. Tapi kalau sekedar ajaran cabang, ya silakan ga masalah berbeda dan tetap berada dalam agama Islam, tapi jangan saling cerca, Perbuatan saling mencerca itulah yang membuat saling bertengkar,” paparnya.

Sementara itum menjawab pertanyaan soal adanya keinginan agar MUI mengambilalih peran Kementerian Agama dalam menentukan awal Ramadhan dan Idul Fitri, menurut Umar Shihab kurang pas karena MUI bukan pemerintah (Ulil Amri). MUI tidak mempunyai kekuatan penekan atau pemaksa. Karena itu, penetapannya harus tetap dilakukan oleh pemerintah yang dalam hal ini diwakili oleh Menteri Agama. “Dalam Al-Qur’an kan ga disebutkan ulama, tapi pemerintah yang harus diikuti. Jadi, MUI juga harus tetap tnduk dan patuh pada pemerintah,” ujar Umar Shihab menanggapi pemikiran Prof. Dr. H. Abdi Kurnia.

Seperti diberitakan,Abdi Kurnia, pengamat keagamaan yang juga dosen UI Jakarta mengusulkan agar MUI mengambilalih peran Kementerian Agama dalam memutuskan awal Ramadhan dan Idul Fitri. Dengan peran berkumpulnya ulama dalam menentukan sebuah ketentuan ajaran agama, menurut Abdi Kurnia akan mendorong umat untuk lebih patuh ketimbang kepada pemerintah. Selama ini MUI juga terkesan bersikap diam terhadap berbagai perbedaan penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri.

Menurut Umar Shihab, MUI sama sekali tidak berdiam diri. Tetapi, MUI tentunya harus bisa menjaga diri agar tidak masuk terlalu dalam ke dalam konflik yang terjadi. “MUI banyak sekali berbuat untuk berusaha mendekatkan berbagai persoalan yang selama ini berbeda dalam pemahaman ajaran keagamaan dalam Islam. Kita terus berupaya agar, minimal, umat tidak menjadi bingung. “Langkah upaya-upaya pencerahan pemahaman terus kita lakukan di tengah umat. MUI tidak diam,” demikian Umar Shihab. (Qr)

sumber : http://www.mui.or.id/index.php/berita/1-berita-singkat/676-awal-ramadhan-dan-idul-fitri-mui-tunggu-pemerintah.html

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: