Sejarah Gempa di Padang – Sumatera Barat

SEJARAH PANJANG GEMPABUMI SUMATERA BARAT

Oleh Daryono BMKG
Peneliti di Badan Meteorologi Klimatokogi dan Geofisika
E-mail: darbmg@yahoo. com


BELUM hilang ingatan masyarakat akan bencana gempabumi Tasikmalaya Jawa Barat pada 2 September 2009 yang menelan banyak korban jiwa dan kerugin harta benda, kini kita dikejutkan kembali oleh kejadian gempabumi dahsyat di Padang, Sumatera Barat. Gempabumi berkekuatan 7.6 Skala Richter yang berpusat di Samudera Hindia pada jarak 57 kilometer arah Barat Daya Kota Pariaman telah menimbulkan kerusakan sangat parah dan menewaskan ratusan orang di Kota Padang dan sekitarnya. Berdasarkan parameternya Gempabumi ini diklasifikasikan sebagai gempabumi aktivitas subduksi menengah yang terjadi pada litosfer dekat dengan bidang kontak antar lempeng Indoaustralia dan Eurasia.

Ditinjau dari sejarah kegempaan di zona gempabumi Sumatera Barat, gempabumi Padang yang terjadi saat ini sebenarnya hanyalah bagian dari sejarah panjang gempabumi yang sudah berlangsung sejak masa lampau. Data sejarah gempabumi kuat dan merusak di Padang merupakan cerminan dari kondisi tektonik yang merupakan kawasan seismik aktif dan kompleks.

Sejarah Gempabumi
Berdasarkan catatan data sejarah kegempaan, daerah Sumatera Barat memang sudah berapa kali mengalami gempabumi merusak. Sejak 1822 hingga 2009 telah terjadi setidaknya 14 kali kejadian gempabumi kuat dan merusak di Sumatera Barat dan diantaranya menyebabkan tsunami. Sejarah panjang gempabumi merusak di Sumatera Barat, diantaranya adalah Gempabumi Padang (1822, 1835, 1981, 1991, 2005), Gempabumi Singkarak (1943), Gempabumi Pasaman (1977) dan Gempabumi Agam (2003). Sedangkan gempabumi yang diikuti gelombang tsunami terjadi di Mentawai (1861) dan Sori-Sori (1904).

Catatan paling tua menunjukkan bahwa di Padang pada tahun 1822 telah terjadi gempabumi kuat yang diikuti suara gemuruh yang berpusat di antara Gunung Talang dan Gunung Merapi. Meski tidak ada laporan secara rinci menyebutkan, namun gempabumi ini dilaporkan menimbulkan kerusakan parah dan korban jiwa cukup banyak.

Pada tanggal 28 Juni 1926, gempabumi dahsyat 7.8 Skala Richter juga dilaporkan pernah mengguncang Padang Panjang. Akibat gempabumi ini tercatat korban tewas lebih dari 354 orang. Kerusakan parah terjadi di sekitar Danau Singkarak Bukit Tinggi, Danau Maninjau, Padang Panjang, Kabupaten Solok, Sawah Lunto dan Alahan Panjang. Gempabumi susulan mengakibatkan kerusakan pada sebagian wilayah Danau Singkarak. Tercatat di Kabupaten Agam sebanyak 472 rumah roboh, 57 orang tewas dan 16 orang luka berat. Di Padang Panjang sebanyak 2.383 rumah roboh, 247 orang tewas. Dampak gempabumi juga menimbulkan banyak tanah terbelah, longsoran di Padang Panjang, Kubu Krambil dan Simabur.

Gempabumi kuat dengan magnitudo 5.6 Skala Richter juga pernah terjadi pada 16 Pebruari 2004. Getaran empabumi ini dirasakan di sebagian besar daerah Sumatera Barat hingga pada VI MMI (Modified Mercalli Intensity) yang menimbulkan korban tewas sebanyak 6 orang dan meluluhlantakkan ratusan bangunan rumah di Kabupaten Tanah Datar.

Selang beberapa hari kemudian, tepatnya pada 22 Pebruari 2004, gempabumi yang lebih besar kembali mengguncang Sumatera Barat dengan magnitudo 6 Skala Richter. Gempabumi ini mengakibatkan satu orang korban tewas dan beberapa orang luka parah serta ratusan rumah rusak berat di Kabupaten Pesisir Selatan.

Tektonik Sumatera Barat
Kondisi seismik yang aktif dan kompleks zona gempabumi Sumatera Barat tersusun atas dua generator gempabumi. Pertama, pembangkit gempabumi berasal dari kawasan barat Sumatera yaitu zone subduksi lempeng yang berpotensi menimbulkan gempa kuat yang besar kemungkinan diikuti tsunami.

Gempabumi-gempabumi yang dipicu oleh aktivitas penyusupan lempeng sebagian besar hiposenternya berpusat di perairan sebelah barat Sumatera. Hal ini berkaitan dengan adanya pertemuan lempeng benua di dasar laut. Untuk kawasan Sumatera Barat, potensi gempa besar justru akibat aktivitas lempeng dizona subduksi yang dicirikan dengan magnitudonya yang relatif lebih besar.

Generator gempabumi kedua adalah zona patahan Sumatera atau yang populer dikenal sebagai Semangko Fault. Semangko Fault merupakan patahan sangat aktif di daratan yang membelah Pulau Sumatera menjadi dua, membentang sepanjang Pegunungan Bukit Barisan, mulai dari Teluk Semangko di Selat Sunda sampai ke wilayah Aceh di utara.

Gempabumi berkekuatan 7,0 skala Richter yang mengejutkan masyarakat Sungai Penuh pada hari Kamis (1/10) yang episentrumnya sekitar 160 kilometer dari Kota Padang merupakan gempabumi akibat aktivitas Patahan Semangko. Tampaknya pelepasan energi gempabumi utama Padang berkekuatan 7.6 skala Richter yang dibangkitkan oleh aktivitas subduksi lempeng berdampak telah memicu aktivitas sesar di daratan.

Berdasarkan data sejarah gempabumi Sumatera, dalam 100 tahun terakhir, sudah sekitar 20 gempa besar dan merusak terjadi zona patahan ini. Berdasarkan penelitian, aktivitas gempabumi di patahan Semangko rata-rata sekitar 5 tahun sekali. Meskipun gempabumi di zona patahan ini magnitudonya relatif kecil, namun dampaknya bisa sangat berbahaya disebabkan sumbernya di daratan yang berdekatan dengan kawasan pemukiman.

Sebagai kawasan yang sangat rawan gempabumi, Daerah Sumatera Barat akan selalu menjadi kawasan yang sering diguncang gempabumi. Oleh karena itu kita semua dituntut untuk lebih serius dalam memperbaiki sistem penanganan bencana alam, baik dalam memperbaiki sistem pamantauan gempabumi, pembuatan peta rawan gempabumi, menyusun peta mikrozonasi gempabumi, merencanakan bangunan tahan gempabumi dan pendidikan masyarakat melalui sosialisasi mitigasi bahaya gempabumi. Jatuhnya banyak korban gempabumi sebenarnya disebabkan karena kurang pahamnya masyarakat dalam menghadapi genpabumi.** *

About these ads

3 Responses

  1. 050168
    itu nomor ibu saya
    tinggal saya di padang
    nama kamu siapa

  2. Saya punya banyak teman di Padang. Asal ada gempa, mereka pasti panik mencari jalan ke arah Indarung. Mudah2an orang2 di sana selalu tabah dan ngga bosan berdoa sama Tuhan.

    • Amin, saya yakin mereka semua nggak akan Bosan berdoa dengan Tuhan, karena yang terjadi disana adalah cobaan karena Tuhan tau, di padang sangat kental dengan Nuansa agamanya, sehingga Tuhan memberikan cobaan karena Tuhan sayang dengan Mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: